First Solo Flight

 

danis, Pak Ketut Daam, Capt. Ratu, Me

danis, Pak ketut daam, Capt. Ratu, me

 

25 november 2009, tanggal yang saya akan ingat selamanya. pada hari rabu pagi saya melakukan solo flight pertama saya. apa yang saya rasakan pada saat itu sangat luar biasa, apalagi bagi seorang student pilot seperti saya dapat terbang sendiri tanpa didampingi instsuktur, only me and my plane.

Pesawat yang dipakai adalah PK-ROJ, ini pertama kalinya saya terbang dengan pesawat ini dan pesawat ini berbeda dengan pesawat yang biasa saya gunakan. Selama ini saya trainning dengan pesawat Cessna 172 P dan R model, tapi Romeo Oscar Juliet adalah Cessna 172 M model. perbedaan dengan “P” model adalah jika menurunkan flap harus menghitung, tidak seperti “P” model yang sudah ada batasannya, sedangakan perbedaan dengan “R” model adalah pesawat ini sudah sistem Injeksi, tidak ada primer atau Carburator heater.

Awalnya saya sempat tidak “pede” dengan pesawat ini karena perbedaan tersebut, saya tidak terbiasa menggunakannya ditambah lagi engine instrumentnya terletak di sebelah kanan, tambah bingung saja saya menggunakannya. 

Kebetulan teman saya, Danis yang mendapat giliran pertama untuk terbang, sehingga saya dapat “mencontek” selama penerbangan dari bandara wisnu di buleleng, bali ke bandara blimbing sari di banyuwangi, jawa. Dan saya juga tetap ikut selama danis melakukan pre-solo check dengan capten ratu.

Setelah melakukan 4 kali circuit trainning bersama instruktur, 2 kali normal landing, 1 kali flapless landing dan 1 kali simulated engine failure baru kemudian saya diberi kepercayaan oleh intrusktur saya, Capt. Ratu Farihah untuk solo flight pertama saya.

“riko, kamu siap untuk solo?”

“insyaallah siap, mba”

“oke, yang penting percaya diri and jangan ragu, confident!”

“Blimbing radio, Papa Kilo Romeo Oscar Juliet, request taxi clearance to runway 26 for my student first solo”

“Papa Kilo Romeo Oscar Juliet, Blimbing radio, taxi to runway 26 report hold short runway 26”
kemudian Capt. Ratu keluar dan saya diberi tepukan dibahu “safe flight ya riko”

PK-ROJ

 

Setelah Capt. Ratu keluar, saya sempat terdiam beberapa saat, cockpit pesawat yang biasanya saya lihat di sebelah kiri saya ada instruktur, sekarang kosong, hanya saya sendiri yang ada di cokpit. Ada sedikit keraguan dalam diri saya, apakah saya bisa melakukan ini tapi semua itu hilang ketika saya mulai taxi. perasaan yang adinya ragu berubah menjadi exitement “the plane is totally under my control!”

sangking exitementnya saya sampai lupa kalau saya harus report ke ATC saya harus hold short dulu, saya baru lapor ketika saya suda entering runway 26. untungnya saja cuma pesawat saya saja yang ada di bandara kala itu, it was a stupid mistake!

saya membawa pesawat saya ke back track ujung runway, terasa cepat sekali dari biasanya, setelah memutar balik saya melakukan run up. ketika melakukan pengecekan magneto saya merasakan mesin sedikit bergetar ketika saya mengecek magneto ke posisi left. timbul lagi keraguan saya untuk terbang, tetapi setelah saya mengulang lagi beberapa sampai 4 kali dan semuanya baik-baik saja maka saya memutuskan untuk melanjutka. Ini adalah salah satu jugas pilot, “Making desitions”. itu adalah pilisan saya untuk melanjutkan, dan saya bertanggung jawab atas tindakan saya.

“Blimbing radio, Papa Kilo Romeo Oscar Juliet, ready for departure runway 26”

“Papa Kilo Romeo Oscar Juliet, Blimbing radio, wind 270/05 knot, runway is clear”

“runway is clear, Papa Kilo Romeo Oscar Juliet”

oke, ini saatnya… set trottle to full power pesawat mulai berjalan, karena “P-Factor” saya menginjak sedikit right rudder agar tetap di centerline. “airspeed alive”, “40”, “50”, “55”, “rotate” pesawat mulai lepas landas. 

Perasaan yang saya rasakan pada waktu itu seperti ketika saya dibelikan PlayStation pertama kali ketika saya ulang tahun oleh orang tua saya, sungguh luar biasa!

Ketika terbang sendiri dan melihat keluar jendela, melihat langit yang luas saya merasa sebagai manusia sangat kecil. jika Allah ingin mencabut nyawa saya, maka inilah saatnya tidak ada instruktur yang membantu saya jika terjadi apa-apa dengan pesawat, saya hanya mengandalkan trainning yang selama ini saya dapatkan. Allhamdulilah pada pagi itu, langit sangat cerah dan angin tidak berhembus kencang seperti biasanya, sehingga saya lebih mudah untuk mengkontrol pesawat.  

ketika landing pertama kali saya langsung full power untuk melakukan circuit yang kedua. Dalam hati saya berkata “seharusnya saya sudah selamat, kenapa saya sok-sokan gini?, apa yang saya lakukan?” tapi semua ketakutan itu tertutup oleh kesengan dan exitement sehingga rasa takut dan ragu hilang seketika. 

“Blimbing radio, Papa Kilo Romeo Oscar Juliet, on final runway 26 for full stop landing”

“Papa Kilo Romeo Oscar Juliet, wind 07/10 knot, runway is clear”

so, tail wind landing, it’s oke karena runwaynya panjang, tapi klo di wisnu bakal beda cerita karena runwaynya pendek dan pohonnya tinggi dan dibelakangnya ada gunung!.

“runway is clear, Papa Kilo Romeo Oscar Juliet”

saya mensejajarkan pesawat ke center line dan meng-idle trotle  ketika di ujung runway dan flair pesawatnya, tapi pesawatnya tidak mau turun karena tailwind tadi, sehingga roda menyentuh landasan sesaat sebelum intersection. saya mengerem perlahan dibantu dengan elevator agar berfungsi sebagai spoiler sehingga saya dapat langsung belok ke apron tanpa harus backtrak dahulu.

setelah saya mematikan mesin dan membuka pintu, Capt. Ratu sudah menunggu dan memberikan pelukan selamat kemapada saya.

“selamat ya riko, sedikit bumpy tapi yang penting safe”

“sekarang sebagai ucapan trimakasih cium tuh ketiga bannya”

 saya mencium ketiga ban Romeo Oscar juliet dan mengucapkan trimakasih

semua perasaan senang, takut, ragu,gembira menjadi satu. perasaan yang tidak dapat diungkapkan. hanya student pilot saja yang dapat merasakan perasaan ini. jika saya boleh jujur saya lebih senang saat melakukan first solo flight pertama saya dibandingkan ketika saya lulus sidang skripsi ketika kuliah dulu. mungkin benar kata teman saya, karena jiwa saya bukan jiwa lawyer 😀

fort wheel PK-ROJ

9 Comments »

  1. lg iseng browsing2, good to see how ur life goes now! passion in life is CERTAINLY everything! kaya gw yang emang 110% bukan interior designer hahahaha..

  2. Riko Arioki Kristiawan said

    Thanks saa… Gw udah “kembali ke jalan yang benar” and its great that what we do for a living we do it with passion 😀

    As for you, Majukan per-fashion-an indonesia hahahahhahahaaha

  3. rizki said

    nice story senior!

  4. Riko Arioki Kristiawan said

    Terima kasih udah mampir 😀

  5. capt.nlpms said

    mau nangis kak,terharu :’)

  6. Riko Arioki Kristiawan said

    terima kasih, mudah mudah bisa menjadi penerbang juga ya :p

  7. Erickpratama said

    wiiih keren om,mudah-mudahan saya bisa nyusul kayak ente :p soalnya sangat minat banget nih jadi penerbang,hehe rela cium semua ban pesawat 😀 sukses ya .Mohon bimbinganya

  8. tongam said

    Mantap…
    Selamat ya..
    Doa in aku juga ya,agar bisa ahun depan bisa jadi student pilot.
    Terima kasih atas cerita ttg pengalaman kamu.

    Klo aku kelak ingin mencium hidung pesawat itu juga,hehehe

  9. Alexander said

    hey man, actually im still in senior High School and i wanna be a pilot too, this story makes me so happy and well motivated, thanks man.. wish you all the best

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: