Archive for Pilot

emergeny experiance

Manusia tidak diciptakan oleh Allah untuk terbang. Takdir manusia adalah berada didarat. Sehingga orang yang bekerja di udara seperti astronot, pilot and cabin crew bisa dikatakan melawan “takdir” tuhan. Dan karena melawan “takdir” tersebut setiap pilot yang pernah bercerita dengan saya pernah mengalami kejadian kejadian yang hampir merengut jiwa mereka, tidak terkecuali saya selama menempuh flight training saya mengalami 2 kali kejadian yang benar benar membuat saya hampir kehilangan nyawa.

Ada beberapa buku tentang penerbangan yang menceritakan kisah pengalaman para pilot tentang situasi seperti ini seperti “7 pilot mencari tuhan”, “Miracle of flight” karya Capt. Abdul Razaq, pilot garuda yang melakukan emergency landing di sungai belawan solo dan juga beberapa buku penerbangan yang ditulis oleh bapak Cheppy Hakim. Semua kisah mereka sangat inspirational bagi saya. 

Cheif Quality control di sekolah, Capt. Totong Sampoerno saya dulu pernah berkata “apa yang kalian lakukan pertama kali ketika mengalami situasi emergency?” kami semua menjawab hal yang pertama kali adalah berdoa. beliau bilang salah, karena kita tidak punya waktu untuk berdoa sebab 3 menit di situasi emergency itu sangat panjang seperti 3 jam di situasi normal. Hal pertama yang dilakukan adalah melakukan semua prosedur emergency.

chief training di garuda indonesia Capt. Lucky juga pernah berkata pekerjaan pilot adalah penuh dengan ketidak pastian karena itu tugas kita adalah meminimalisir ketidak pastian tersebut. oleh sebab iu seorang penerbang harus “tough” tidak boleh manja!

Sehingga pilot dilatih secara rutin untuk menghadapi situasi emergency atau abnormal itu sebabnya “pilot is the most trained profesion in the world”. setiap 6 bulan sekali kita harus melaksanakan medical exemination, profeciency check dan tes tes lainnya di simulator pesawat.

saat ini saya mengantongi 155 jam terbang dan selama itu saya mengalami 2 kali situasi yang hampir membunuh saya. kejadian itu adalah:

Kejadian pertma ketika saya dan teman mutual saya Dion Anugroho sedang melalukan Cross County dari bandara belimbing sari di banyuwangi ke bandara selaparang di lombok. ketika hendak landing terakhir di banyuwangi pas pesawat hendak touch down tiba tiba ada gust atau angin yang bertiup dari samping pesawat yang cukup kencang sekitar 18 knot atau 36 km/jam, pesawat saya langsung terhempas keluar sebelah kiri dari landasan, saya yang waktu itu bertindak sebagai pilot in command langsung melakukan “go arround” prosedur, naik lagidan  memutar balik dan landing lagi dengan selamat. saat itu kondisi pesawat sudah beberapa meter dari rumput dan “stall warning” yaitu peringatan kalau pesawat akan kehilangan lift dan akan jatuh seperti batu sudah berbunyi. jika telat beberapa saat saja saya sudah pasti mengalami kecelakaan.

 

Kejadian kedua terjadi sewaktu saya sedang instrument training di solo. saat itu posisi pesawat berada di radial 120 dan 22 NM dari SLO VOR atau 44 km dari bandara adisumarmo. tiba tiba saja pesawat mengalami loss power yaitu mesin pesawat tidak bekerja dengan maksimal. pada saat itu saya sedang bersama instruktur saya dan teman saya xyzuo sedang ada di kursi belakang. awalnya saya merasa pesawat turun dari ketinggian yang seharusnya, sehingga saya menambahkan power pesawat agar pesawat tetap diketinggian yang diingginkan yaitu 3000 feet.

“riko you need to add more power so we dont decent” kata instruktur saya. “sir, is already on full power”. “oww sh*t you just had a real emergeny” kemudian kita mengecek ternyata suhu oli sudah sangat tinggi dan tekanan oli sangat rendah. pesawat normah maximal RPMnya bisa sampai 2600 RPM ini hanya sampai 2100 RPM dan pesawat mulai turun pelan. saat itu kami langsung melakukan emergency prosedur, saya menerbangkan pesawat kembali ke bandara, instruktur saya mencari tempat pendaratan yang layak seperti sawah, jalan, atau lapangan dan xyzquo membaca pilot operating handbook yang ada di peawat untuk mencari solusi atas power loss dari mesin ini. situasi tamnah parah ketika kami bilang ke ATC kalau kita ingin balik ke bandara tapi ditahan karena ada 2 pesawat yang ingin landing, setelah diberitahu kami mengalami emergecy baru kami langsung diperbolehkan balik kebandara. pada saat sudah mendekati bandara ketinggian kami sudah setikat 2000 feet dan anehnya tiba tiba mesin kembali normal, suhu oli normal, tekanan oli normal dan power juga sudah kembali normal. sehingga kali dapat mendarat dengan selamat.

map solo

pada saat itu terjadi sedikit kesalah pahaman antara saya dan instruktur, dia mengira bandara ada di belakang kami tapi saya bilang bandara ada didepan kami sehingga kami sedikit berdebat dan akhirnya kami menyalakan alat bantu navigasi yaitu ADF semacam alat di pesawat yang menunjuk ke bandara. di situsi emergency seperti itu sangat wajar jika kita mengalami disorientasi karena tingkat stress dan panik oleh sebab itu kita harus tetap tenang dalam menghadapinya.

konon katanya kami berada diatas makam ibu tien di astana giribangun di karanganyar, kata driver kami yang orang lokal burung saja yang lewat diatasnya langsung jatuh. percaya atau tidak percaya. tetapi setelah dicek oleh mekanik tidak terjadi apa apa dengan pesawat itu, bahkan besoknya pesawat itu sudah kembali terbang, tetapi 2 hari kemudian, oli pesawat itu merembes ke bodi bagian bawah pesawat. beberapa kali dicoba diperbaiki oleh mekanik tapi tidak bisa, sampai akhirnya harus ganti mesin. 

“i was so scared, man” ucapan pertama kali yang diucapkan instruktur saya sesudah kami memarkinkan pesawat. “i thougt were gonna die today, sir” “yes, we were born again today.”

setiap saya tanya ke ayah teman saya yang pilot ketika dia mengahadapi situasi emergency dia bilang ketika kejadian itu kita biasa aja, tidak ada perasaan takut tapi setelah pesawat parkir baru kaki gemeteran. begitu juga dengan saya, di kedua kejadian tersebut tidak ada rasa takut tetapi sesudah landing baru kaki gemeteran. saya tanya ke dion, “lo waktu itu takut ga sih waktun kita mau “nyangkut di rumput” “kagak, gw liat lo pede and gw ngerasa pesawatnya undercontrol jadi gw ga takut”

tulisan ini dibuat bukan bertujuan untuk memamerkan tau “show off” tapi untuk membagi penglama ke teman teman semua. saya mempunya pegangan bahwa “experiance is the best teacher, but you dont have the time to experiance it all so learn from other experiance” itulah sebabnya saya senang membaca butu biografi terutapi kisah kisah penerbangan.

Advertisements

Comments (9)

Is not just a matter of skills

Ketika dulu awal awal saya circuit training, saya mengalami kesulitan sehingga saya sempat berpikir apakah saya bisa menjadi pilot? Teman saya Avie Farhabie kemudian berkata “even monkey can fly” witch is true but flying is not about your flying skills, ada banyak faktor yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang pilot yang baik.

Faktor tersebut antara lain mental, awareness, dan decision making. Kenapa student pilot ada terbang solo? Itu dilakukan untuk melatih hal hal tersebut diatas. Your alone on that plane and your life depends on your judgment and ability. And if your flying an airliner more than 100 lives depend on you.

Now, your flying skills mungkin bisa diajarkan oleh instruktur kita, tapi mental and hal hal lain tersebut apakah dilatih oleh instruktur? Maybe yes, maybe no.

Ada beberapa orang yang saya kenal jika dia terbang dia mengalami “demam panggung” ada juga yang jika diberi pressure sedikit oleh instruktur dia langsung “ngeblank”, brain freeze kalau kata instruktur saya. “Your in the airplane but you don’t fly the airplane.” He don’t know what to do.

Setiap orang mempunyai judgment yang berbeda dengan yang lain. Contohnya ketika saya terbang mutual cross country dari belimbing sari, banyuwangi ke selaparang, lombok dengan rekan saya mike papilaya, di selat lombok ada awan yang cukup tebal. Ketidak itu kami terbang di ketinggian 7000 feet. Opsi saya adalah turun ke ketinggian yang lebih rendah atau tetap di ketinggian ini dan mencari celah di awan tersebut. Rekan saya menyarankan agar tetap diketinggian ini dan mencari jalan disela sela awan. Karena saya pilot in command (PIC) Pilihan saya adalah turun dari ketinggian 7000 feet dan akhirnya kita melewati kumpulan awan tersebut.

Saya dan rekan saya memiliki judgment yang berbeda tapi kedua decision tersebut tetap dalam batas yang aman. Hanya penilaiannya saja yang berbeda dari tiap orang.

Sifat sifat itu yang dinamakan dengan Airmanship yang harus dimiliki oleh seorang penerbang. Salah satu inspektor dari DSKU yang pengecek PPL license saya pernah berkata “saya tidak akan meluluskan orang yang saya tau akan membahayakan keluarga saya jika dia pilotnya.” Big applause to the man, right safety first sir..!!

Being a pilot is not just about flying, its about decision making dan judgment because many lives depends on you.

Comments (3)

Tips untuk Calon Pilot

Saya ingin membagi beberapa tips tentang latihan terbang dari pengalaman saya selama mengikuti flying course. Sampai tulisan ini saya buat saya mempunyai sekitar 50 jam terbang.

1. Sebelum terbang sebaiknya kita belajar terlebih dahulu. Dalam hal ini belajar mengenai latihan apa yang akan kita lakukan besok, seperti prosedur exercise stall, steep turn dll. Tujuannya agar kita tau apa yanga akan kita lakukan nantinya. Dengan tau apa yang akan kita lakukan maka ketika disuruh melakukan oleh instruktur kita dapat langsung mempraktekannya. Sehingga kita cepat untuk pindah ke excercise selanjutnya.

2. Nyontek. Bukan maksudnya nyontek ketika ujian tapi nyontek teman kita yang sedang terbang dengan menjadi passangernya. Dengan ini kita dapat mengetahui kesalahan teman kita dan kita tidak mengulanginya ketika kita yang mendapat giliran terbang. “Learn form others mistake.”

3. Be Calm and don’t panic. Hal ini penting karena biasanya apabila kita melakukan kesalahan dan instruktur sudah marah2 maka kita cenderung untuk hilang konsentrasi. Akibatnya flight kita jelek sekali.

4. Enjoy your flight. Kata instruktur saya Capt. Ratu, terbang itu ada 2 macam, enak dan enak sekali. Apabila kita enjoy terbang kita dan tidak terbeban makan terbang itu akan sangat menyenangkan.
Caranya adalah dengan prepare semua hal sebelum terbang.

Menjadi pilot bukan hanya masalah skill tapi juga masalah mental karena pilot mendapatkan pressure yang sangat besar sehingga mental kita harus diasah. Jadi kuatkan mental kita terlebih dahulu.

Comments (2)

Captain Ratu Farihah

 

saya dan Capt. Ratu

saya dan capt. Ratu

 

Banyak yang mengetahui siapa Capt. Ratu Farihah. Dia adalah pilot yang melakukan emergency landing ketika pesawat Cessna 172 di jalan tol cikampek dengan selamat. Satu dari sedikit wanita yang berprofesi sebagai pilot di Indonesia. If she can land a plane at a freeway safely, than she’s a great pilot”

Mba Ratu, begitu saya menyebutnya merupakan instruktur saya. Beliau yang mengajarkan saya bangaimana menerbangkan pesawat, bagaimana mendaratkan pesawat dan beliau juga yang me-release saya solo flight. dapat diistilahkah saya lahir menjadi pernerbang dibawah tangan Mba ratu. 

Mungkin Mba Ratu menerapkan slogan “flying is fun, but serious fun” karena hal tersebut yang saya rasakan selama saya terbang dengan beliau. terbang bersama beliau seperti “joy flight”, tanpa tekanan, saya benar benar menikmati terbang. Mba ratu pernah bilang “kalian disini siswa dan jam terbang kalian masih sedikit jadi berbuat kesalahan itu wajar jadi buat apa saya marah marah ke kalian, kecuali kalau kalian sudah jadi captain dan buat kesalahan baru saya marah”

Kita bisa ngobrol and bercanda dalam pesawat. Tapi kalau saya sudah melakukan kesalahan yang bodoh atu tidak serius beliau akan sangat marah. Saya pernah sekali dimarahi oleh mba ratu karena terbang saya kacau sekali dan beliau benar benar marah, seperti sedang memarahi anaknya sendiri.

Beliau dikenal sangat dekat dengan siswanya. Kalau sedang di ground kita bisa saling berbaur, bercerita banyak hal, bercanda dan makan bersama sehingga tidak tampak seperti murid dan guru. seorang dengan kepribadian yang sangat baik.

Thank you so much Capt. for teaching me how to fly

Comments (11)

First Solo Flight

 

danis, Pak Ketut Daam, Capt. Ratu, Me

danis, Pak ketut daam, Capt. Ratu, me

 

25 november 2009, tanggal yang saya akan ingat selamanya. pada hari rabu pagi saya melakukan solo flight pertama saya. apa yang saya rasakan pada saat itu sangat luar biasa, apalagi bagi seorang student pilot seperti saya dapat terbang sendiri tanpa didampingi instsuktur, only me and my plane.

Pesawat yang dipakai adalah PK-ROJ, ini pertama kalinya saya terbang dengan pesawat ini dan pesawat ini berbeda dengan pesawat yang biasa saya gunakan. Selama ini saya trainning dengan pesawat Cessna 172 P dan R model, tapi Romeo Oscar Juliet adalah Cessna 172 M model. perbedaan dengan “P” model adalah jika menurunkan flap harus menghitung, tidak seperti “P” model yang sudah ada batasannya, sedangakan perbedaan dengan “R” model adalah pesawat ini sudah sistem Injeksi, tidak ada primer atau Carburator heater.

Awalnya saya sempat tidak “pede” dengan pesawat ini karena perbedaan tersebut, saya tidak terbiasa menggunakannya ditambah lagi engine instrumentnya terletak di sebelah kanan, tambah bingung saja saya menggunakannya. 

Kebetulan teman saya, Danis yang mendapat giliran pertama untuk terbang, sehingga saya dapat “mencontek” selama penerbangan dari bandara wisnu di buleleng, bali ke bandara blimbing sari di banyuwangi, jawa. Dan saya juga tetap ikut selama danis melakukan pre-solo check dengan capten ratu.

Setelah melakukan 4 kali circuit trainning bersama instruktur, 2 kali normal landing, 1 kali flapless landing dan 1 kali simulated engine failure baru kemudian saya diberi kepercayaan oleh intrusktur saya, Capt. Ratu Farihah untuk solo flight pertama saya.

“riko, kamu siap untuk solo?”

“insyaallah siap, mba”

“oke, yang penting percaya diri and jangan ragu, confident!”

“Blimbing radio, Papa Kilo Romeo Oscar Juliet, request taxi clearance to runway 26 for my student first solo”

“Papa Kilo Romeo Oscar Juliet, Blimbing radio, taxi to runway 26 report hold short runway 26”
kemudian Capt. Ratu keluar dan saya diberi tepukan dibahu “safe flight ya riko”

PK-ROJ

 

Setelah Capt. Ratu keluar, saya sempat terdiam beberapa saat, cockpit pesawat yang biasanya saya lihat di sebelah kiri saya ada instruktur, sekarang kosong, hanya saya sendiri yang ada di cokpit. Ada sedikit keraguan dalam diri saya, apakah saya bisa melakukan ini tapi semua itu hilang ketika saya mulai taxi. perasaan yang adinya ragu berubah menjadi exitement “the plane is totally under my control!”

sangking exitementnya saya sampai lupa kalau saya harus report ke ATC saya harus hold short dulu, saya baru lapor ketika saya suda entering runway 26. untungnya saja cuma pesawat saya saja yang ada di bandara kala itu, it was a stupid mistake!

saya membawa pesawat saya ke back track ujung runway, terasa cepat sekali dari biasanya, setelah memutar balik saya melakukan run up. ketika melakukan pengecekan magneto saya merasakan mesin sedikit bergetar ketika saya mengecek magneto ke posisi left. timbul lagi keraguan saya untuk terbang, tetapi setelah saya mengulang lagi beberapa sampai 4 kali dan semuanya baik-baik saja maka saya memutuskan untuk melanjutka. Ini adalah salah satu jugas pilot, “Making desitions”. itu adalah pilisan saya untuk melanjutkan, dan saya bertanggung jawab atas tindakan saya.

“Blimbing radio, Papa Kilo Romeo Oscar Juliet, ready for departure runway 26”

“Papa Kilo Romeo Oscar Juliet, Blimbing radio, wind 270/05 knot, runway is clear”

“runway is clear, Papa Kilo Romeo Oscar Juliet”

oke, ini saatnya… set trottle to full power pesawat mulai berjalan, karena “P-Factor” saya menginjak sedikit right rudder agar tetap di centerline. “airspeed alive”, “40”, “50”, “55”, “rotate” pesawat mulai lepas landas. 

Perasaan yang saya rasakan pada waktu itu seperti ketika saya dibelikan PlayStation pertama kali ketika saya ulang tahun oleh orang tua saya, sungguh luar biasa!

Ketika terbang sendiri dan melihat keluar jendela, melihat langit yang luas saya merasa sebagai manusia sangat kecil. jika Allah ingin mencabut nyawa saya, maka inilah saatnya tidak ada instruktur yang membantu saya jika terjadi apa-apa dengan pesawat, saya hanya mengandalkan trainning yang selama ini saya dapatkan. Allhamdulilah pada pagi itu, langit sangat cerah dan angin tidak berhembus kencang seperti biasanya, sehingga saya lebih mudah untuk mengkontrol pesawat.  

ketika landing pertama kali saya langsung full power untuk melakukan circuit yang kedua. Dalam hati saya berkata “seharusnya saya sudah selamat, kenapa saya sok-sokan gini?, apa yang saya lakukan?” tapi semua ketakutan itu tertutup oleh kesengan dan exitement sehingga rasa takut dan ragu hilang seketika. 

“Blimbing radio, Papa Kilo Romeo Oscar Juliet, on final runway 26 for full stop landing”

“Papa Kilo Romeo Oscar Juliet, wind 07/10 knot, runway is clear”

so, tail wind landing, it’s oke karena runwaynya panjang, tapi klo di wisnu bakal beda cerita karena runwaynya pendek dan pohonnya tinggi dan dibelakangnya ada gunung!.

“runway is clear, Papa Kilo Romeo Oscar Juliet”

saya mensejajarkan pesawat ke center line dan meng-idle trotle  ketika di ujung runway dan flair pesawatnya, tapi pesawatnya tidak mau turun karena tailwind tadi, sehingga roda menyentuh landasan sesaat sebelum intersection. saya mengerem perlahan dibantu dengan elevator agar berfungsi sebagai spoiler sehingga saya dapat langsung belok ke apron tanpa harus backtrak dahulu.

setelah saya mematikan mesin dan membuka pintu, Capt. Ratu sudah menunggu dan memberikan pelukan selamat kemapada saya.

“selamat ya riko, sedikit bumpy tapi yang penting safe”

“sekarang sebagai ucapan trimakasih cium tuh ketiga bannya”

 saya mencium ketiga ban Romeo Oscar juliet dan mengucapkan trimakasih

semua perasaan senang, takut, ragu,gembira menjadi satu. perasaan yang tidak dapat diungkapkan. hanya student pilot saja yang dapat merasakan perasaan ini. jika saya boleh jujur saya lebih senang saat melakukan first solo flight pertama saya dibandingkan ketika saya lulus sidang skripsi ketika kuliah dulu. mungkin benar kata teman saya, karena jiwa saya bukan jiwa lawyer 😀

fort wheel PK-ROJ

Comments (9)

Test Untuk Calon Pilot Part 3(Bahasa Inggris DSKU)

setelah lulus Medex, E-Profiling dan psycomotoric tes terakhir yang harus dilewati adalah tes bahasa inggris di DSKU. biasanya tes ini dilaksanakan di DSKU di departemen perhubungan, tapi saya melaksanakan tes secara kolektif dengan calon siswa lain di sekolah terbang saya.

tes ini terbilang cukup mudah, waktu yang diberikan adalah 1-2 jam tapi kita semua selesai dalam waktu kurang dari 15 menit. (see how easy it is :D). bentuk tesnya pilihan ganda terdiri dari kalau tidak salah 30 soal (lupa persisnya karena waktu itu lebih mikirin perut karena sudah sangat lapar hahhaha).

akhirnya setelah lulus semua tes ini maka kita mendapatkan SPL (Student Pilot License) yippiiieeeee….

Congratulation now your one step further to become a real pilot!!!!

Comments (5)

Test Untuk Calon Pilot Part 2(E-Profiling)

Setelah lulus Medical Exemination, tes selanjutnya yang saya lalui adalah E-profiling. Tepat tesnya adalah di Lab Psikologi TNI AU di halim perdanakusuma. Tes ini untuk mengukur kemampuan dasar kita and juga tes IQ. Soal soal yang yang harus dikerjakan adalah soal soal bahasa inggris, matematika, fisika dan juga tes IQ berupa serangkaian gambar gambar yang harus dijawab dengan tepat.

Saya sempat takut dan bingung ketika saya mengetahui bahwa teradapat tes matematika dan fisika dalam E-proliling ini, karena sudah 5 tahun saya tidak “menyentuh” matikmatika dan fisika. Pada saat persiapan itu saya bertanya pada teman teman saya yang sudah melaksanakan tes ini sebelumnya seperti apa soal yang akan keluar. Rata rata mereka menjawab tesnya seperti matimatika dasar SMA! Kemudian saya mencari buku buku persiapan SPMB yang tedapat contoh soal matematika dan hanya 10% dari soal itu yang masih saya ingat 😀

Untungnya ketika saya kulaih di Bandung dulu, saya kos di daerah cisitu dan tempat kos saya banyak mahasiswa ITB, salah satunya adalah Johnson Marpaung dia mengambil jurusan matematika di ITB, lucky me.. hahahah. Sehingga saya meminta dia untuk mengajari saya matematika dasar.

Apa yang saya belajar dari dia tenyata kelaur semua!! Again.. lucky me. Tetapi yang membuat soal itu susah adalah kita tidak boleh menggunakan kalkulator atau kertas buram untuk mengerjakan soal tersebut, jadi kita haur menghitungnya diluar kepala sambil ngayal!! Saya hanya berhasil mengerjakan 8 dari 10 soal yang harus dikerjakan dalam waktu 15 menit.

Soal soalnya pun tidak seperti matematika dasar SMA yang menurut saya rumit, tapi lebih kepada matematika logika seperti, menghitung jarak, waktu yang ditempuh, besar kandungan suatu logam, kecepatan dan lain lain.

Saya yakin tanpa belajar pun kita dapat menyelesaikan soal tersebut dengan catatan logika kita baik. Dan again lucky bagi saya, ketika saya kuliah dulu saya terdapat mata kuliah logika. Thanks Prof. Arief Sidharta hahahahhaha

Kemudian berikutnya adalah tes fisika, dan tes ini tidak seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Tidak ada soal hitungan hanya teori teori fisika seperti mana katrol yang paling ringan, arus listrik jika lampunya ingin menyala, mana yang tenaganya paling kecil dll.

Soal bahasa ingrisnya pun juga relatif mudah. lebih kepada arti kata, dan gramar.

Semua soal matematika, fisika, dan bahasa inggris masing masing berjumlah 15-20 soal dan dikerjakan dalam batas waktu tertentu. tidak masalah apabila kita tidak menjawab semua soal karena semua hasil tes yang kita jalani akan digabung hasilnya.

tes terakhir adalah tes psycomotoric. Apabila anda sering bermain flight simulator atau game lainnya yang menggunakan joystick tes ini tidak akan bermasalah buat anda. Dalam tes ini  terdapat 3 indikator dalam penerbangan, yaitu heading, altitute dan speed. tugas kita adalah me”maintain” semua indikator tersebut sesuai perintah yang diberikan.

misalnya kita disuruh ke heading 240 dengan ketinggian 4.000ft dan speed 230knot sehingga kita harus menyesuaikan dengan joystick sesuai dengan perintah yang diberikan tersebut. ditambah lagi juga kita harus menekan tombol sesuai dengan perintah. misalnya apabila kita mendengan 3 angka ganjil secara berturut turut kita diharuskan menekan tolbol merah sebaiklnya apabila yang terdengar 3 angka genap berturut turut yang ditekan adalah tombol hijau.

tes ini untuk mengetahui beserapa besar kemampuan koordinasi mata, tangan dan telinga kita.

Comments (40)

Older Posts »